Mia Kunto: Malamang

indonesiasatu, 06 May 2019, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

OPINI - Kiranya tak ada yang tak kenal dengan makanan tradisional dari Sumatera Barat (Sumbar) satu ini. Apalagi saat Ramadhan dan Idul Fitri. Lamang atau lemang dalam bahasa Indonesia, adalah jenis makanan khas yang berbahan baku utama ketan putih/hitam (disebagian daerah ada juga yang menggunakan beras), santan kelapa, daun pisang dan dimasak dalam sebuah bambu. Memasaknya dengan menggunakan bara kayu api, dalam posisi tegak dijejerkan memanjang. Saat Ramadhan dan hari besar Islam biasanya jadi menu wajib.

Bagi saya, terus terang ini adalah sebuah pengalaman luar biasa. Sebagai orang baru di Minangkabau, ini adalah kali pertama seumur hidup menyaksikan sendiri proses membuat makanan yang rasanya sangat gurih. Karena itu, suatu kegembiraan ketika beberapa hari lalu (3 Mei lalu), kami bersama dengan Yayasan Kartika Jaya berbaur bersama warga dan para wali murid melalukan tradisi Malamang. Memasak lamang dengan jejeran terpanjang. 

Sebelum memulai kegiatan ini, saya mencoba menelusuri internet, mencari tahu apa dan bagaimana malamang itu sebenarnya. Dari pengetahuan sepintas itu, saya tahu bahwa tradisi ini konon katanya berkembang sejalan dengan masuknya syiar Islam di Minangkabau. Syekh Burhanudin adalah tokoh yang berperan penting dalam melakukan ritual penting ini. Aspek Islam sangat kental mempengaruhi, terutama predikat halal sebuah makanan.

    Dari hal itu, sudah ada pengetahuan awal bahwa malamang sebenarnya bukanlah kegiatan yang sederhana, bukan hanya sekedar sebuah masakan yang terhidang dalam sepotong bambu. Lamang punya banyak nilai-nilai penting, baik dari sisi sejarah, identitas, dan bahkan filosofis bagi sosial budaya masyarakat. Pengetahuan mengenai ini, dari penelusuran internet, kemudian melihat dan melakukan langsung prosesnya, saya paham bahwa tradisi ini memang harus dihidupkan dilestarikan.

    Hal awal adalah dari bahan bakunya. Lamang di Minangkabau terbuat dari ketan hitam atau putih. Dari sini saja jelas bahwa lamang bukanlah makanan pokok, karena makanan utama masyarakat adalah nasi dari beras. Ketan adalah tanaman sejenis padi yang ditanam di perladangan dan biasanya ditanam masyarakat untuk tujuan tertentu. Kandungan gizi sangat tinggi. Ketan hitam memiliki kandungan antioksidan, zat besi, protein, karbohidrat, serat, vitamin E, mineral seperti kalium, natrium (sodium), magnesium, dan zinc. Karena itu mengkonsumsi ketan (apalagi dalam bentuk lamang), bisa mengenyangkan dan memperkuat energi. Selain lamang, ketan sering juga digunakan untuk membuat jenis-jenis penganan tradisional lainnya. Hal penting disini, ketan sebagai bahan baku utama lamang, punya nilai positif besar bagi tubuh manusia.

    Lamang biasanya disajikan dengan campuran santan kelapa. Masakan Minangkabau memang identik dengan santan. Perpaduan santan dengan ketan memang menghasilkan citarasa luar biasa. Gurih dan harum yang khas sangat terasa. Sering orang mengatakan bahwa santan berpotensi meningkatkan kolesterol dalam tubuh. Di satu sisi mungkin benar, tetapi dalam proses malamang itu tidak terjadi. Pengetahuan saya menunjukkan, keseimbangan takaran dan porsi bahan baku menentukan efek suatu makanan. Khusus pada lamang, komposisi ini sudah diatur sedemikian rupa, sehingga yang dikedepankan adalah aspek rasa dan keharuman, yang dalam takaran pas tidak berefek negatif pada tubuh. Sungguh ini suatu kekhasan dari tradisi nenek moyang.

    Ketan campur santan kemudian dimasukkan dalam sepotong bambu yang sudah dilapisi daun pisang. Pandangan awal akan mengatakan bahwa ini untuk memberikan efek harum dan enak sebuah makanan. Betul memang, ketan lamang menjadi harum dan enak. Tapi bukan soal itu saja. Bambu adalah sorotan utama.

    Bambu adalah jenis tanaman yang sangat mudah ditemukan di Indonesia. Tanaman ini juga terkenal sangat ramah lingkungan dan biasanya tumbuh dalam sebuah kerimbunan. Tanah yang ditanami bambu biasanya akan menjadi subur. Pada beberapa kasus, tanaman bambu mampu menjadikan daerah sekitarnya sebagai cadangan air utama. Selain itu bambu juga efektif untuk menjaga keutuhan struktur tanah. Pokoknya bambu adalah jenis tanaman yang punya nilai manfaat tinggi, baik pada habitatnya maupun pada nilai manfaat. 

    Oleh karena itu, menjadikan bambu sebagai sarana utama memasak lamang, sama dengan ikut serta menjaga keutuhan sebuah lingkungan. Andai kata tradisi malamang terus dilestarikan dan seandainya saja setiap kampung melakukan tradisi ini menjelang Ramadhan, berapa banyak bambu yang dibutuhkan. Kebutuhan akan bambu akan membuat tanaman ini juga semakin banyak ditanam. Suatu hal yang sangat positif sekali.

    Sementara itu, dari pengalaman langsung saat membuat lamang, saya bisa lihat dan saksikan sendiri bahwa kegiatan ini punya nilai sosial sangat tinggi. Memasak lamang tak mungkin hanya satu atau dua batang, pasti dalam jumlah banyak, minimal 10 batang. Untuk bisa memasaknya dengan baik dibutuhkan kayu atau tempurung kelapa, diperlukan pula menjaga agar struktur api hidup dengan baik. Mulai dari proses mencari bambu, mengolah ketan dengan santan, memasukkan daun pisang, menghidupkan api dan menjaga api tetap konstan, tak bisa dilakukan sendiri. Butuh orang lain, semakin banyak lamang semakin banyak yang terlibat.

    Dalam hal ini, nilai kebersamaan menjadi sangat kental. Ini nilai penting yang harus dipelihara. Di jaman sekarang, mungkin sudah jarang kita temukan masa-masa dimana warga berkumpul bersama, ngobrol, bersenda gurau, dan kemudian menghasilkan suatu yang positif. Malamang adalah momentumnya.

    Malamang juga harus dilakukan di luar ruang, tak bisa didapur atau dalam rumah. Artinya, keluasan ruang dan partisipasi orang banyak terlihat nyata. Malamang akan mengundang kehadiran pihak lain, paling tidak mampir dan duduk sebentar. Ini hal penting yang sekarang kiranya sudah tergerus di masyarakat. Kaum milenial sekarang ini membutuhkan ruang-ruang publik seperti ini. Malamang bisa jadi jawabannya.

    Generasi muda sekarang mungkin tak paham dengan tradisi ini, bahkan mungkin juga tak pernah melihat bagaimana caranya lamang dibuat. Harus kita giatkan dan harus dibangkitkan. Lamang bukan sekedar makanan, tapi lamang adalah jiwa sosial bagi masyarakat.

    Hal penting juga, lamang bukanlah makanan kelas kampung. Label lamang sebagai makanan pinggiran hanya soal brand saja. Saatnya lamang dimunculkan dan di branding sebagai makanan identitas dan kebanggaan bersama, sebagaimana Rendang yang sudah lebih duluan. Lamang perlu dinaikkan levelnya, karena itu perlu modifikasi, perlu inovasi dan bahkan perlu keberanian untuk menjadikannya sebagai kebanggaan. Saya bangga makan lamang.

Oleh : Mia Kunto

(Ketua Persit KCK Koorcab Rem 032/WBR Padang)

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu